<body bgcolor="#000000" text="#000000">
dunia di musim hati




Nirwala: Mahangkara Laya

Hati perih serupa luka tergores getir sinar-sinarmu yang menghijau biru.
Hentikanlah, atas nama kisah.
Badan ringkih penuh hitam ini nyaris tak sanggup lagi menyusun bebat membendung gelimpangan nyeri tak tertahankan.
perlukah kularik dengan bunga matahariku, dan jadikan kita semua binasa?
Atau kau lebih suka menancap jantungku dengan pedang tujuh anasirmu dan membiarkan bumi, kayu, api, dan air larut bersama aliran darah kematian dan kenangan?

[02.08.2005]




navigasi
narasi

Puisi demi puisi berjalan bersama waktu. Kuning-hijau-biru-ungu berbuku-buku. Ketika kuasa tak ayal direngkuh, melainkan lelah dan jenuh. Berbait-bait puisi tercipta dengan tinta peluh. Lalu cinta disua pada suatu masa. Cinta yang lemah dan juwita, cinta yang berkuasa. Seketika berbait-bait puisi tercipta dengan tinta merah jingga. Puisi-puisi itu adalah monumen. Yang disebar di batas-batas wilayah kuasa. Disebar di muka dunia nan maya. Atas nama cinta.

[Jakarta, Juni 2002]


Arsip
tentang

Agung Yudha
Agung Yudha

Lahir di Bandung bulan Juli 1976. Selain menulis sajak dan prosa, juga menulis untuk jurnal dan surat kabar serta menjadi periset dan editor lepas. Sajak-sajaknya dimuat antara lain dalam antologi puisi Dian Sastro for President (AKY-Bentang, 2002), Dian Sastro for President #2: Reloaded (AKY-Bentang, 2003), antologi puisi Temu Sastra Jakarta Bisikan Kata Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta - Bentang, 2003), antologi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005) serta milis Penyair, Musyawarah-Burung, Hitam-putih, dan Bumimanusia.

beberapa karya foto bisa dilihat di situs DeviantArt


komune
sindikat
basabasi

spanduk

content and layout © 2004 Agung Yudha

background image by 'dedidude' courtesy of DT Xtreme

menyalin/menerbitkan materi dalam situs ini di media lain harus dengan sepengetahuan pemilik situs.