<body bgcolor="#000000" text="#000000">
dunia di musim hati




sekedar kupukupu

kupukupu jingga bermain di padang hijau muda
bersama bunga sewarna dan rerumput rungkut
bersama perawan berbuntut kuda yang tak seberapa liar
lalu berubah leleh menguning warnanya
hinggap lekat di pelataran rata debu metafisika
mengerokot tumbuh di bebatuan taman sebelah jalan
tak lalu diusik cahaya, tanah, dan airmata
jua tak ada pesanan nyawa yang dibawa
karena jelmanya dari kepompong ulat bulu
bukan dari hak belakang sepatu bersayap hermes
pagi hari kala gerombolan bangau terbang ke utara

[24.08.2004]






Hujan Bulan Juli (kolaborasi)

(1)

ada sepi menggeletak pada bulir serpih titik hujan
bidadari merangkul puisi
malaikat alpa bermain bola
segelas canda mengerinyut menjadi kabut
sebait senyum menghampa dibidik awan...

ah, ini pasti cuma hujan bulan juli
menggamit mesra tanganku
mengajari ketuk salsa kesepian
mengajakku menyusuri lagi dingin hari di bawah istana hujan

Ucu Agustin.
[12.07.2004]

(2)

ada sepi menggelegak di atas lapak kopi pinggiran kota
bayang-bayang ara menjadi rambu
peluit kereta-kereta bambu menuju lirihku
dan setiup angin di karpet aspal hitam basah
mengurai jejak-jejak awan menjadi hujan

ya, ini memang hujan bulan juli
mengetuk dedaun pisang di atas kepala
menyembunyikan titik-titik kecup antara mata
dan selingkar rindu di atas roda

Randu Rini.
[28.07.2004]

(3)

Memang ini hujan bulan Juli
Tersenyum murung di antara kota-kota tua
Membawa petir sampai ke ujung
mematah rindu di tengah malam

ada yang berderak serupa penyihir yang lelah,
menggusur mantra menelantarkan kejaiban
memucatkan rona di antara siraman hujan

Dan ia telah sampai di ujung
suatu akhir pada titik di bulan juli
menghapus secarik musim aneh yang ganjil
namun tetap,
menggenapiku dalam sepi yang dingin

Ucu Agustin.
[28.07.2004]


(4)

Detak rintik hujan bulan Juli
Merentak di atap-atap sepi
Tak jadi ia akhirkan sendiri
Tak hendak ia jadi banjir basi

Mengalir airnya ke perigi hati
Gumpal jiwa yang kini resah tak juga tumpah
Ketika matahari menolak bersinar
Sementara mendung tak mau pergi

Detak rintik hujan bulan Juli
Merentak di atap-atap sepi
Mengiringi petir berjalan mencari
Hadirkan jawab rindu di tengah hari

Agung Yudha.
[29.07.2004]

(5)

sepantul basah di aspal yang dilangkahi kaki dingin
menggenangkan sebuah rasa yang selama ini sembunyi
dibalik segala hiruk gesa metropolis yang tersesat
dan tersendat seperti gapai gapai yang telah dihimpit tekan
atas nama entah apa yang menjadi pagar terali menghadang raih

tetapi hujah telah membasuh kering tembok tegak tebal
dan mendungnya melunakkan warna sengat pendar langit
membangunkan hangat dalam diri

hujan menetes rintik satu persatu melarutkan bau matahari di wajah
melintasi mata yang tiba tiba berkaca kaca disentuh sapa
saat aku memandang tatapmu seiring suara sekitar meluruh
segagap kalimatku, segagap langkah hidupku
waktu berhenti menyisakan hanya percik percik di bebasah jalan
menghitungi satu persatu, menepuk satu persatu
menanya satu persatu

bukankah kau sudah lelah menyembunyikan rindu di terik matahari?
aku ingin mendekapmu di teduhan saat hujan

Idaman Andarmosoko.
[30.07.2004]

(6)

: sang narator

hujan bulan juli sampai sudah di perbatasan
sang narator pun akhiri semua catatan
dengan desah, dalam tulisan kabur dibaca hujan
yang mengaduk lumpur dan genangan di halaman

ditutupnya buku, telah dibingkainya hujan menggebu
dengan ngilu. lalu pada sebuah pantai, yang landai, merindu
dengan deru biru dada lalu dia memburu:
mungkin kenangan. mungkin harapan. mungkin hujan baru

tak begitu paham. dia naiki sepeda kumbang
meloncat-loncat hindari lubang-lubang jalan
yang ditunjukkan genangan sisa hujan:
air terperangkap yang tak mampu mengkristal
catatan hari berlumpur dan kabur, di halaman kehidupan

Yaqin Saja.
[02.08.2004]

(7)

Terciciplah lembab pagi dalam engah
dalam buru nafasku menghujan hembus
payah menepis kobaran tak tertahan
jeruji cair bergenggam geram
membuyar terbangan kumbang menyengat
tak kunjung ludas
perih yang hendak kulepas

aku berlari menyusur jalan, tiang-tiang
persimpangan, untaian pagar-demi pagar
berlari menyusur benang diriku mengejar ujung
menguntit percik terjauh yang ditempuh kembang api di langitku
letup dalam mampat dadaku
dalam sesak ledak padat

aku berlari bukan mengejar namun melepaskan
tiap degup itu ketika telapaknya menyelinap berulang
di sebuah pagi
sehabis tuntas melautnya malam
setuntas deru kecipak layar itu beranjak pulang
dari seonggok dermaga
pada cakrawala

Cecil Mariani.
[Agustus 2004]

(8)

masih kubersandar pada keraguan
semantara hujan bulan juli
meluruhkan berpuluh khayalanku
dan kau enggan menjaringnya

sunyi kian melumut di bibir senja
-bukankah tapak kaki kita mengarah ke sana?

Mega Vristian.
[03.08.2004]

(9)

kau telah turun sebagai hujan
dengan seribu catatan di halaman
mencipta teratai-teratai di sebuah kolam

tapi hujan bulan juli
sering memang tak sebijak hujan bulan juni
tak disampaikannya gemerlap ikan-ikan
kepadamu, di bawah akar teratai-teratai itu

hingga sunyi menatah diri
dan ragu seperti mendung yang menyesal
telah turun sebagai hujan

tapi hujan bulan juli
memang sering tak sebijak hujan bulan juni
hingga kau ragu sendiri
pada langkah ke mana mengarah

seolah tak ingin memasti
kecuali sebagai catatan kabur
yang makin mengabur
pada hujan bulan juli

Yaqin Saja.
[03.08.2004]

(10)

langit turun di taman
mengantarkan kilat-kilat liar
bunga-bunga mengejang garang
di taman semerbak rumput panggang

hujan bulan juli
meminta tumbal seikat puisi
dari serbuk yang di tebar di tepi sepi

langit turun di bulan juli
menuntut bunyi pada bumi

Arwan Maulana.
[04.08.2004]

(11)

Hujan yang turun di bulan Juli
mengantar saksi menghadap majelis yang mulia
pengadilan sang pengembara bermula
ketika tercerabut pasak-pasak kayu
pada poros roda setiap kendara

Hujan bulan Juli memang tak lagi turun
tapi sisa sisa jasad sang pengembara
yang dihukum mati oleh majelis yang mulia
membusuk di peti serpih kayu harum
menjadi tempat bersenandung bagi dedaun

agung yudha.
[06.08.2004]

(12)

dan sepagi ini aku hilang alasan mencari pintu

secangkir teh,
seruas kayu manis
dan leleh rambutmu semalam oleh hujan bulan juli
adalah bius dosis tinggi
yang mengunci kakiku
indah ip.
[juli 2004]

(13)

lelapku telah lenakan semua syaraf

cumbuan lebat,
kopi panas dan sepiring pisang hangat
buatku enggan tanggalkan diri dari pelukMu

ah, aku hanya bermimpi pada hujan bulan juli ini

Sam Bahri.

(14)

-a-

Tiba tiba aku kasmaran
pada camar yang melayang pelan
:membisikkan cinta yang aku hampir tak mengenalnya

-b-

kepakan hujan
di kubah MU
:Tuhan kenapa kita hanya sua sekejap

Cent Cent.






Dalam Setiap Jejak

Purnama kuning tertimpa hujan yang turun dari sudut dalam kelopak tak seberapa jauh dari titik pandang. Jiwa durjana melelah tebaran nelangsa di hati hati tak bernoda. Mungkin ini karma atau hanya sekedar pertanda. Ataukah rasa yang tak ingin tunduk rebah dengkur pada waktu, meski pedang dan perisai telah lepas dari genggaman tinggalkan tubuh tak berdaya berlumur darah yang tak merah. Bagai teater mimpi yang enggan menutup layar usangnya yang penuh lubang meski pertunjukan telah sampai pada tiupan terompet kerang di garis belakang.

[01.08.2004]






Sampaikan Salamku

Sampaikan salamku pada bukit cemara
tempat kisah menua
larik kata tak bermakna yang jadi cerita
lain masa tak bertaut
harap bersayap terbang berputar tak tentu arah
sampaikan salamku pada bukit cemara
tempat kisah menua
semoga tak mati siasia

[31.07.2004]





navigasi
narasi

Puisi demi puisi berjalan bersama waktu. Kuning-hijau-biru-ungu berbuku-buku. Ketika kuasa tak ayal direngkuh, melainkan lelah dan jenuh. Berbait-bait puisi tercipta dengan tinta peluh. Lalu cinta disua pada suatu masa. Cinta yang lemah dan juwita, cinta yang berkuasa. Seketika berbait-bait puisi tercipta dengan tinta merah jingga. Puisi-puisi itu adalah monumen. Yang disebar di batas-batas wilayah kuasa. Disebar di muka dunia nan maya. Atas nama cinta.

[Jakarta, Juni 2002]


Arsip
tentang

Agung Yudha
Agung Yudha

Lahir di Bandung bulan Juli 1976. Selain menulis sajak dan prosa, juga menulis untuk jurnal dan surat kabar serta menjadi periset dan editor lepas. Sajak-sajaknya dimuat antara lain dalam antologi puisi Dian Sastro for President (AKY-Bentang, 2002), Dian Sastro for President #2: Reloaded (AKY-Bentang, 2003), antologi puisi Temu Sastra Jakarta Bisikan Kata Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta - Bentang, 2003), antologi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005) serta milis Penyair, Musyawarah-Burung, Hitam-putih, dan Bumimanusia.

beberapa karya foto bisa dilihat di situs DeviantArt


komune
sindikat
basabasi

spanduk

content and layout © 2004 Agung Yudha

background image by 'dedidude' courtesy of DT Xtreme

menyalin/menerbitkan materi dalam situs ini di media lain harus dengan sepengetahuan pemilik situs.