<body bgcolor="#000000" text="#000000">
dunia di musim hati






Elegi duka

ramah yang merangkul malam
tak sanggup menyapih perih
dari luka-luka
dan detak waktu yang berpacu dengan ragu
mengian limbung derak roda-roda
yang membawa kelam pada cahaya
pada semburat di ujung barat
tempat mula mengucur darah

[26.05.03]







Perginya

perginya yang lalu
tinggalkan selusin tanya tersisa
membenamkan misteri dari awangan
dalam lumpur kering terang

perginya yang lalu
sepikan ramai di antara
rebahkan gejolak rasa merangkai tua
yang bawa raga ke arah siang

[21.05.03]







Di timur, di timur

Tumpas sudah sebagian rindu
pada tumpang atap-atap rumbia
dan tapak-tapak undur
ayun angin-angin
bangku kayu setepi lapangan bola
ikan bakar
cumi bakar
udang bakar
kangkung bakar
ditemani berkotak-kotak Tinto
sepanjang pasir putih
kerumunan gadis-gadis pantai
dengan nyala lilin di genggaman
dengan himne puja di gumaman
-- kalau tak salah ini bulan Maria --
sekarang tinggal menunggu rindu baru

[Dili, 08.05.03]







Akankah Kisah

Air merah bening bulat tumpah sudah
tercecer di lapis-lapis arkrilik meja sepi
menetes ke permukaan kawat duri
direntangnya halang
mendarah pedih dan panas
mengasam racun
memuntah mual
meriak ludah pejuh

Meretak cangkir bundar purnama
tepiannya merigi tajam sayat
kulit-kulit hati nan bertabur balsam
pada malam-malam sendiri
pada hari-hari sunyi
pada untaian pesan
pada gulungan harap
pada titik-titik embun hijau hitam kuning

Merangkum bunga dalam satu cupu
tempat dikremasi buluh semesta
merindu mengawang mengasap
melanggam dibenam sumpah
nelangsa di dasarnya danau karma
jiwa-jiwa
maki-maki
sia-sia

[05.05.03]




navigasi
narasi

Puisi demi puisi berjalan bersama waktu. Kuning-hijau-biru-ungu berbuku-buku. Ketika kuasa tak ayal direngkuh, melainkan lelah dan jenuh. Berbait-bait puisi tercipta dengan tinta peluh. Lalu cinta disua pada suatu masa. Cinta yang lemah dan juwita, cinta yang berkuasa. Seketika berbait-bait puisi tercipta dengan tinta merah jingga. Puisi-puisi itu adalah monumen. Yang disebar di batas-batas wilayah kuasa. Disebar di muka dunia nan maya. Atas nama cinta.

[Jakarta, Juni 2002]


Arsip
tentang

Agung Yudha
Agung Yudha

Lahir di Bandung bulan Juli 1976. Selain menulis sajak dan prosa, juga menulis untuk jurnal dan surat kabar serta menjadi periset dan editor lepas. Sajak-sajaknya dimuat antara lain dalam antologi puisi Dian Sastro for President (AKY-Bentang, 2002), Dian Sastro for President #2: Reloaded (AKY-Bentang, 2003), antologi puisi Temu Sastra Jakarta Bisikan Kata Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta - Bentang, 2003), antologi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005) serta milis Penyair, Musyawarah-Burung, Hitam-putih, dan Bumimanusia.

beberapa karya foto bisa dilihat di situs DeviantArt


komune
sindikat
basabasi

spanduk

content and layout © 2004 Agung Yudha

background image by 'dedidude' courtesy of DT Xtreme

menyalin/menerbitkan materi dalam situs ini di media lain harus dengan sepengetahuan pemilik situs.