<body bgcolor="#000000" text="#000000">
dunia di musim hati






Teater Mimpi

+ dalam lenguh jarum jam, kita menggelandang siang, mengusir mentari serampang, mencoba mengeja kata dari buraian rindu tak tercela

dalam jeram masa, kita menyapih bosan, menyekap segala rupa bahasa yang meluncur liar dari lubang-lubang palka perahu jiwa

+ sabut waktu mencuci ingatku, akan sebuah tema yang menyusun abad hidup, dan seberapa jauh aku berlari, mencari satu bingkai kosong tuk memampang wajahmu

rindu ini tak berperi. dan pedih hanya membawaku ke papan-papan di pelabuhan, berserak, menjaga dingin-dingin malam dan titik embun yang meliat di punggung-punggung telanjang

+ bulan khianat menjaring rasi-rasi berdebu dan menaburkannya sebagai resah di lowong semesta gelap, tetes-tetesnya membeku di ujung-ujung rambut kita, membentuk selingkar galaksi di hati.

dan kita hanya bisa menunggu sesal, akhir cerita menggulung lipat di kelopak mata, campak dan bingung melebam histeria air pasang yang tak lagi membawa ombak melintasi ruahan air di tepian pasir

+ sesungguhnya, ribuan sungguh menjejal dalam benak, cintamu bersanding karang-karang batu melahirkan erosi dan aku bersimpuh lebam melepaskan kapal-kapal kertas berisi namamu

dalam kekaleman yang tercerai, kita memahat istana dari kerikil. ada pesan yang terlupakan di lipatan-lipatan kertas. mendaur bersama alir angin, mengabur bersama kelu

+ menjadi risalah jejak sejarah di dinding-dinding gua, terpasung stalaktit-stalaktit dingin dan kabut sebagai kelambu tidur rindu kita yang kepanjangan

kita, yang menjalin arwah-arwah putih dengan sutra merah ungu, menisiknya dengan tulang-tulang purbakala yang ditemu dari situs-situs berwarna jingga di kota-kota kita

+ entah berapa mimpi terangkai pada seluloid usang terpasang tiap kali sosokmu kerap tersenjang

setiap kali kau lempar ngeri melintasi kawat-kawat pagar berduri, memaksa beku yang menggigil di luar kubik-kubik kaca ruang fantasi mengapi

+ setiap kali kau menerjang tabu dengan ceracaunya, meninggalkan kekhusukan pada simpuhku di pulau-pulau khayal mengapung

kita pun luruh pada angkuh, pada geleparan rasa di pagi-pagi buta, pada ketakutan akan hitam dan pengadilan air mata

+ kita pun luruh tersisip angin membawa kita menjauhi buaian, kembali ke senyata kisah di gaung bait-bait madrigal hati

[Y!m 25.04.03]
kolaborasi dengan Bunga Randu (+)








Sajak Bumi

suara hati yang menderak dahan-dahan kering meranggas menjelang patah luruh di gurun sabana menampar angin-angin bawah sadar insan benua

+ mencuri rahasia gugurnya detik demi detik dalam debar menggeletar yang lapar dan haus dalam gerowong raksasa resah yang bercucuran dari bibir dialog talang talang hati hujan yang mengering di kemarau

denting-denting air runtuh dari tanah-tanah merah berpayung hitam berselimut mantra doa saujana iringi kepak sayap harap berpalung menara tembus awan pelangi-pelangi, hembuskan dingin masam menusuk paru-paru jiwa dalam remahan waktu yang berdentang pekak telinga

+ pekak gaung di tetes silam jatuh atas genang air air yang telah tak bernyawa dalam kekeringan yang memandang rindu pada langit langit tempatnya sekali waktu bertahta dalam gemawang yang memahami segala, terluka seakan terhukum katung antara langit dan bumi dan tanah tanah redam tersisa melata atas rusuk rusuk yang rawan lelap dekap bumi yang ambigu, mengusik takzim sunyi jadi lolong mendayu meruah dari bebatuan hati yang melembab langu

dan kala yang marah meragi sukma jadi basi, menangkup resah menyimpannya dalam peti-peti rapat berpaku batu granit hitam, menjauh dari tangan-tangan berjelaga berebut segamit langit segamit bumi agar terjaga di rasi dimensi yang tak surgawi

+ jernih jujur gemericik kolam kolam hati tersembunyi di dasarnya kelam maha hampa yang membungkam. menyuling segala nyala dan cahaya, hasrat dan resah resah membahana dalam purgatoria yang memerah segala jadi hening murni yang jernihkan hasrat hasrat kepada umbi lapis akhir tuntas dikelupasi sampai tertinggal bijih lembaga hati

[y!m, 23.04.03]
kolaborasi dengan Cecil Mariani (+)








Yang Akan Kembali

Langkah-langkah kecil tak sengaja menapak
Jalani tanjakan terjal gamping pasi
Leleh nafas yang tertahan sengal
Hantar terik matahari jelajahi malam hari
Membakar aliran sungai-sungai mantra
Membuncahi gelak dada dengan usap cedera
Meranggasi pucuk pohon bintang dengan jilat luka

Dan lelaku mulai membayang rindu
Yang menunggu jelang di balik kelambu
Puruk pilu di gelagap sudut ruang-ruang
Tempat kenangan-kenangan bertebaran
Membiarkan kelam berlalu membawa bosan
Bersama tumpahan residu kemurungan
Menghitung waktu yang bergelinjangan tak tentu

[20.04.03]







Antropomorfisme II

matahari jentikkan lagi jari-jarinya siang itu
peluh yang mencair bosan di pori-pori
basahi hari, dengan butiran-butirannya
yang mengkristal dalam sendawa

kata tawa melambung ke langit-langit
bersama asap ke awang-awang
menjelajah di dinding putih ramah
menggelinjang di dingin tanah merah

denting-denting nada berpadu jadi bahasa
ada lagu, ada sendu, ada gurau
lalu pecahlah kebekuan yang jumawa kala paginya
jadi mangkak embun di pelukan senja

satu dua kata bersaut, menjadi memori
kantuk lelah kejam menista, tak lagi diraga
karna rasa ajari kita untuk mencerna dunia
dengan senyum dan tawa

[Lebakbulus, 12.04.03]
* jawaban buat Antropomorfisme-nya Arwan







Di Televisi Kulihat

Segumpal riak
Mendesak tenggorokan luka
Rejan nafas
dan duka demi nestapa menggema lagi
Di belahan bumi ini
Menebar hawa kematian
Ke mega-mega hitam
Ke lautan dalam
Satu per satu pulang ke pangkuan
Jerih
Sakit
Kecewa
Sedih
Gila
Takut
Mati

[09.04.2003]







Di Sebuah Persinggahan

liku jalan terjarah sudah
lembar sampul merah pun terserah
saat mendung rayu lagi sore
meja
tangga
jendela
kain bali
dan selimut basi
geletuk dingin jadi ragi hati
melebur bersama kopi panas
kepul rokok
denting gitar
ayam bakar
lingkar kala,lengkung pena
dihujam meremuk redam
malam resah, gerah, lelah, remah
lenguh suara dibekap sepi
pada akhir sisa yang terberai
mengalir bersama keringat
beku air mandi
kopi panas (lagi)
ayam goreng
teh botol dingin
bir hangat
kepul rokok (lagi) sepanjang esok hari

[06.04.2003]




navigasi
narasi

Puisi demi puisi berjalan bersama waktu. Kuning-hijau-biru-ungu berbuku-buku. Ketika kuasa tak ayal direngkuh, melainkan lelah dan jenuh. Berbait-bait puisi tercipta dengan tinta peluh. Lalu cinta disua pada suatu masa. Cinta yang lemah dan juwita, cinta yang berkuasa. Seketika berbait-bait puisi tercipta dengan tinta merah jingga. Puisi-puisi itu adalah monumen. Yang disebar di batas-batas wilayah kuasa. Disebar di muka dunia nan maya. Atas nama cinta.

[Jakarta, Juni 2002]


Arsip
tentang

Agung Yudha
Agung Yudha

Lahir di Bandung bulan Juli 1976. Selain menulis sajak dan prosa, juga menulis untuk jurnal dan surat kabar serta menjadi periset dan editor lepas. Sajak-sajaknya dimuat antara lain dalam antologi puisi Dian Sastro for President (AKY-Bentang, 2002), Dian Sastro for President #2: Reloaded (AKY-Bentang, 2003), antologi puisi Temu Sastra Jakarta Bisikan Kata Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta - Bentang, 2003), antologi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005) serta milis Penyair, Musyawarah-Burung, Hitam-putih, dan Bumimanusia.

beberapa karya foto bisa dilihat di situs DeviantArt


komune
sindikat
basabasi

spanduk

content and layout © 2004 Agung Yudha

background image by 'dedidude' courtesy of DT Xtreme

menyalin/menerbitkan materi dalam situs ini di media lain harus dengan sepengetahuan pemilik situs.