<body bgcolor="#000000" text="#000000">
dunia di musim hati




Nirwala: Tantra Sakhyasoma

Kulantangkan puja bagi mereka yang terlanjur menggenggam dunia dalam kolam teratainya. Musim sudah sampai lembar ketiga, menunggu buka cahaya yang bakal menuntun arah langkah menuju gerbang penjara paria. Ke sana.

naumaku sammanda bodanan

Geretak gigi mewajah marah membiru muka dan raga. Matanya nyala menjadi bunga alang di hamparan batu tempat terduduk dilingkup bara. Ia diam tak bergerak. Wahai gerang gusar mega hancur ragusara. Sakit ini memanggilmu untuk menelungkup pada hari terang dan senja benderang.

senda makaroshada sowataya

Kurengkuhi pedang bertatah bunga matahari emas dan aku berdiri di atas kuda berwarna malam. Kepada perang yang penuh dengan tanya dan curiga kubiarkan larik sinar biru itu mengikat kita sekali lagi. Karena kita sudah memilih kendara para satria kita. Untuk lari dan engah dalam gegas kita.

Om Shura Sowaka

[26.04.2010]





Nirwala: Yaate Atichaara

Tubuhtubuh basah itu bergelimpang merah. Di landas mereka jala. Di atap mereka musnah. Dan kereta pun melaju begitu saja tanpa toleh dan tatap, meninggalkan reruntuhan debu bersama tiga pasang nyala mata perempuan penuh amarah terkabur darah. Tombaktombak telah patah rempak sebagaimana kereta yang melaju begitu saja tanpa toleh dan tatap. Diam itu gelap. Dingin itu senyap.

[08.12.2009]





Nirwala: Pramadhia Bhumi

Bulan purnama tertutup bayang mendung. Malam itu. Dari balik bintang gunung tinggi menjulang berjubah biru tersenyum pada tanah lapang dirundung gerimis. Di genggamnya ada pesan jingga yang dilemparkannya pada kereta kencana yang lewat sekedarnya bersama berlaksa butiran salju bersenjata perak berperisai tembaga. Letup demi letup ingat merangkai menjadi nada sayup mendesing menembus pundak kanan lalu menancap sedepa dari gendang telinga.
Ya Amur, sang penguasa kesunyian, engkaukah itu yang menitipkan kilap pucuk tombak melalui angin dingin helaan nafas sang putri salju? ke mana pisau kayumu? kenapa tak kau biarkan aku menampak rajah mantra di punggungmu? sementara gigil ini nyaris beku oleh dini hari.
Bulan purnama masih tertutup bayang mendung.

[Kartum, 23.03.2008]





Ini Sebuah Puisi Serius!

Gericik peluh dan airmata terdengar lempang dan antah serupa denting sendok beradu dinding gelas keramik mengaduk kopi gula dan kayu manis beriring zikir melafal asma'ul husna. Lelah menyeruak pada punggung berjelaga dalam sepi dini hari yang cuma ditemani suara lonceng jepang di atas beranda, mengambangi pagarpagar dan tiraitirai bambu menyapih gelap yang tak seberapa syahdu. Menjelma pada lenguh dan tangis anak malam di setiap pagutan kabut subuh, di setiap jenjangan tangga menembus langit ketujuh tempat iblis menebar bunga dan malaikat mabuk ganja. Mereka tidak sedang berkolaborasi menulis puisi memang. Tidak akan pernah.

[01.02.2008]





Nursi

Kabut kelabu pekat itu menggelinding liar ke kanan dan kiri. Melintasi batu dan pepohonan yang liar ranggas di tepian tanah ladang terbengkalai entah sejak kapan. Dari balik kilat lidah api unggun sepasang mata resah memikirkan sebuah pencarian yang belum kunjung usai. Teronggok pula sang putih bersemangat sayu berharapan ragu membincang panjang lebar tentang perjalanan dan jarak tempuh sedepa demi sedepa yang berwindu sudah dijalani. Gerai kelam tersampir di bahu. Selamanya begitu.

[08.08.2007]





Gossip Hari Ini (10)

tiga malam ini
ia menari bersama kupukupu kelabu
lalu seekor ular melahap kepalaku

[01.05.2007]





Nirwala: Sangkalaswarna

Kepada ombak yang menyapih barisan karang di bibir pantai itu ia mendongak. Riak sendu diam. Ingatan mundur barang beberapa depa pada puncak gunung salju yang menoleh tersenyum tentram di sebuah siang yang terik di hulu tempat jeram bermula. Ia rindu pada sinar-sinar biru yang merajam tubuh dan sukma. Ia rindu pada nyala mata yang menghidupi petani-petani di ladang desa. Ia rindu pada derap kuda yang melintasi sungai dengan telapak terluka. Ia rindu pada purnama: yang tak lagi hadir dan gurau di tepi samudra.

[Pejaten, 08.08.2006]





Licorice

biarkanlah sang hati melepas rindu pada awang di rak sepatu, di lemari buku, di daun jendela dan pintu. jangan kremasi. lebih baik hidangkan bersama nasi untuk sarapan kita esok hari bersama secangkir kopi pagi dan kepul asap rokok yang menerobos sela-sela gigi menuju ruang-ruang kosong di selangkangan otak kanan dan kiri berganti-ganti. siapa tau entah nanti matahari terbit dari balik bayangan kita sendiri?

[Cikini, 01.05.2006]





Blues Night

di kepung lengking harmonika dan raung sayat gitar, segumpal bentuk membayang diantara tabir kabut kepul asap rokok dan silau lampu panggung.

sekujur jiwa raga ini lebam dicambuk rindu.

[Menteng, 06.01.2006]





Kronologi Kematian Seonggok Raga

batang batang lurus gagah hijau
menjulang menembus tirai hujan
berteman kabut puih pekat laknat
berlarian susul menyusul melanggan dingin
menebar aneh di mata rasa
getar pada dinihari dinihari
entah gundah entah kecewa
menggali sumber tak seberapa jauh dari pagar kornea
berlatar layar hitam di panggung-panggung manusia
dan gending smaradhana dengung talu melawan waktu
mengiringi tarian jengah dan angap
saat itu tibatiba
kulihat ujung pedang diantara kedua alis mata
terlalu dekat untuk mengejap
terlalu singkat untuk mengenang
walau tebas yang dinanti tak kunjung datang
sementara
segelas air jahe hangat di tangan kanan
sudah tumpah sedari tadi

[Tulungrejo, 09.12.2005]




navigasi
narasi

Puisi demi puisi berjalan bersama waktu. Kuning-hijau-biru-ungu berbuku-buku. Ketika kuasa tak ayal direngkuh, melainkan lelah dan jenuh. Berbait-bait puisi tercipta dengan tinta peluh. Lalu cinta disua pada suatu masa. Cinta yang lemah dan juwita, cinta yang berkuasa. Seketika berbait-bait puisi tercipta dengan tinta merah jingga. Puisi-puisi itu adalah monumen. Yang disebar di batas-batas wilayah kuasa. Disebar di muka dunia nan maya. Atas nama cinta.

[Jakarta, Juni 2002]


Arsip
tentang

Agung Yudha
Agung Yudha

Lahir di Bandung bulan Juli 1976. Selain menulis sajak dan prosa, juga menulis untuk jurnal dan surat kabar serta menjadi periset dan editor lepas. Sajak-sajaknya dimuat antara lain dalam antologi puisi Dian Sastro for President (AKY-Bentang, 2002), Dian Sastro for President #2: Reloaded (AKY-Bentang, 2003), antologi puisi Temu Sastra Jakarta Bisikan Kata Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta - Bentang, 2003), antologi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005) serta milis Penyair, Musyawarah-Burung, Hitam-putih, dan Bumimanusia.

beberapa karya foto bisa dilihat di situs DeviantArt


komune
sindikat
basabasi

spanduk

content and layout © 2004 Agung Yudha

background image by 'dedidude' courtesy of DT Xtreme

menyalin/menerbitkan materi dalam situs ini di media lain harus dengan sepengetahuan pemilik situs.