Bulan purnama tertutup bayang mendung. Malam itu. Dari balik bintang gunung tinggi menjulang berjubah biru tersenyum pada tanah lapang dirundung gerimis. Di genggamnya ada pesan jingga yang dilemparkannya pada kereta kencana yang lewat sekedarnya bersama berlaksa butiran salju bersenjata perak berperisai tembaga. Letup demi letup ingat merangkai menjadi nada sayup mendesing menembus pundak kanan lalu menancap sedepa dari gendang telinga. Ya Amur, sang penguasa kesunyian, engkaukah itu yang menitipkan kilap pucuk tombak melalui angin dingin helaan nafas sang putri salju? ke mana pisau kayumu? kenapa tak kau biarkan aku menampak rajah mantra di punggungmu? sementara gigil ini nyaris beku oleh dini hari. Bulan purnama masih tertutup bayang mendung.
[Kartum, 23.03.2008]
@ 27.3.08 >>> |
Ini Sebuah Puisi Serius!
Gericik peluh dan airmata terdengar lempang dan antah serupa denting sendok beradu dinding gelas keramik mengaduk kopi gula dan kayu manis beriring zikir melafal asma'ul husna. Lelah menyeruak pada punggung berjelaga dalam sepi dini hari yang cuma ditemani suara lonceng jepang di atas beranda, mengambangi pagarpagar dan tiraitirai bambu menyapih gelap yang tak seberapa syahdu. Menjelma pada lenguh dan tangis anak malam di setiap pagutan kabut subuh, di setiap jenjangan tangga menembus langit ketujuh tempat iblis menebar bunga dan malaikat mabuk ganja. Mereka tidak sedang berkolaborasi menulis puisi memang. Tidak akan pernah.
[01.02.2008]
@ 5.2.08 >>> |
Nursi
Kabut kelabu pekat itu menggelinding liar ke kanan dan kiri. Melintasi batu dan pepohonan yang liar ranggas di tepian tanah ladang terbengkalai entah sejak kapan. Dari balik kilat lidah api unggun sepasang mata resah memikirkan sebuah pencarian yang belum kunjung usai. Teronggok pula sang putih bersemangat sayu berharapan ragu membincang panjang lebar tentang perjalanan dan jarak tempuh sedepa demi sedepa yang berwindu sudah dijalani. Gerai kelam tersampir di bahu. Selamanya begitu.
[08.08.2007]
@ 23.8.07 >>> |
Gossip Hari Ini (10)
tiga malam ini ia menari bersama kupukupu kelabu lalu seekor ular melahap kepalaku
[01.05.2007]
@ 10.5.07 >>> |
Nirwala: Sangkalaswarna
Kepada ombak yang menyapih barisan karang di bibir pantai itu ia mendongak. Riak sendu diam. Ingatan mundur barang beberapa depa pada puncak gunung salju yang menoleh tersenyum tentram di sebuah siang yang terik di hulu tempat jeram bermula. Ia rindu pada sinar-sinar biru yang merajam tubuh dan sukma. Ia rindu pada nyala mata yang menghidupi petani-petani di ladang desa. Ia rindu pada derap kuda yang melintasi sungai dengan telapak terluka. Ia rindu pada purnama: yang tak lagi hadir dan gurau di tepi samudra.
[Pejaten, 08.08.2006]
@ 7.8.06 >>> |
Licorice
biarkanlah sang hati melepas rindu pada awang di rak sepatu, di lemari buku, di daun jendela dan pintu. jangan kremasi. lebih baik hidangkan bersama nasi untuk sarapan kita esok hari bersama secangkir kopi pagi dan kepul asap rokok yang menerobos sela-sela gigi menuju ruang-ruang kosong di selangkangan otak kanan dan kiri berganti-ganti. siapa tau entah nanti matahari terbit dari balik bayangan kita sendiri?
[Cikini, 01.05.2006]
@ 7.5.06 >>> |
Blues Night
di kepung lengking harmonika dan raung sayat gitar, segumpal bentuk membayang diantara tabir kabut kepul asap rokok dan silau lampu panggung.
sekujur jiwa raga ini lebam dicambuk rindu.
[Menteng, 06.01.2006]
@ 11.1.06 >>> |
Kronologi Kematian Seonggok Raga
batang batang lurus gagah hijau menjulang menembus tirai hujan berteman kabut puih pekat laknat berlarian susul menyusul melanggan dingin menebar aneh di mata rasa getar pada dinihari dinihari entah gundah entah kecewa menggali sumber tak seberapa jauh dari pagar kornea berlatar layar hitam di panggung-panggung manusia dan gending smaradhana dengung talu melawan waktu mengiringi tarian jengah dan angap saat itu tibatiba kulihat ujung pedang diantara kedua alis mata terlalu dekat untuk mengejap terlalu singkat untuk mengenang walau tebas yang dinanti tak kunjung datang sementara segelas air jahe hangat di tangan kanan sudah tumpah sedari tadi
[Tulungrejo, 09.12.2005]
@ 19.12.05 >>> |
Gossip Hari Ini (9)
Ia yang menyala pada bara, menggema pada gua, mengaum pada singa, bersujud pada batu nan semenjana.
[25.11.2005]
@ 24.11.05 >>> |
pada suatu taklimat
baru saja aku bertemu dan mengenalku sore tadi. aku yang mengingatkanku pada pertempuran demi pertempuran penuh dendam dan airmata selama tigabelas kali empat musim. aku yang mengenangkanku pada pilarpilar batu raksasa yang meruntuh satu demi satu bersama lariku dari lapang masa. aku yang membayangkanku pada air api udara tanah dan logam yang dipatri serasi membentuk bunga kamboja menghadap senja. aku yang menghafalkanku pada adegan demi adegan film biru penuh peluk cium dan belaiku atasku.aku yang memotret dunia berkalian tanpa mengatur asa, mengandalkan diafragma dan lampu kilat saat hujan menyapu malam dengan lidilidi airnya nan bertebaran tak terikat. aku yang menggigil dalam hangat selimut rumput basah yang baru dipanen dengan aniani oleh ibuibu petani padi di sawah garapan yang hanya sedepa lebarnya. dan selasar maya itupun bukan hijau warnanya. hijau tak ada diantara pilihan kotakotak warna yang kusuguhkan dalam waktu dua termin di depan mukaku.
[25.11.2005]
@ 24.11.05 >>> |
Nirwala: Nareshvari Upavatha
bulan purnama yang lalu tak memberi apa-apa pada kepastian. yang ada hanya air pasang yang malas-malasan menggerus pasir pantai dan menariknya ke dasar samudra. perempuan itu berlalu dengan senyum di bibirnya dan perih di dada. rambutnya basah oleh sisa airmata senja. padang itu sunyi. cuma suara tetes darah putih menggema dari bibir merah yang lumat oleh rintih. lidah api yang merambat sepanjang salib kayu mahoni tak juga debukan jubah biru yang berkibar bagai bendera perang di kurusetra. hidup tak jadi menghampiri, mati pun enggan pergi. perempuan itu berlalu dengan senyum di bibirnya dan perih di dada. rambutnya basah oleh sisa airmata senja. di belakangnya ada dendam dan rindu terengah mengejar sambil mengacungkan senjata ke udara. genderang upacara tak lagi menyuara. padang itu sunyi.
[04.10.2005]
@ 4.10.05 >>> |
Nirwala: Mahangkara Laya
Hati perih serupa luka tergores getir sinar-sinarmu yang menghijau biru. Hentikanlah, atas nama kisah. Badan ringkih penuh hitam ini nyaris tak sanggup lagi menyusun bebat membendung gelimpangan nyeri tak tertahankan. perlukah kularik dengan bunga matahariku, dan jadikan kita semua binasa? Atau kau lebih suka menancap jantungku dengan pedang tujuh anasirmu dan membiarkan bumi, kayu, api, dan air larut bersama aliran darah kematian dan kenangan?
[02.08.2005]
@ 6.8.05 >>> |
Surat Menyurat Singkat
aku tidak sedang jatuh cinta. aku sudah tak lagi cari bahagia dari orang lain seperti dulu.
"aku hanya khawatir. tidak boleh?"
mengapa harus mengkhawatirkan kepingan?
"tidak harus. tapi itu pilihanku."
buat apa? takut serpihan itu terinjak? toh sudah remuk, tak apa dilindas apapun juga. paling terbawa angin puyuh. kelar.
"jadi aku tak punya hak atas pilihan ku sendiri? baik. aku pergi. tak akan kuganggu kau lagi."
bukan tak punya hak, aku cuma tanya kenapa.
"tak perlu lah kau tau kenapa. toh alasanku tak ada pengaruhnya buatmu kan?"
ya sudah terserah. kalau mau pergi ya silakan, toh dari dulu kau sudah pergi.
"karena aku menyayangimu dan tak ingin melihatmu bersedih. tapi kau tampaknya lebih suka berkutat dengan kesedihanmu dan pura-pura bahagia. alasanku tak ada guna, kenapa masih ditanya?"
aku tak pura-pura bahagia. aku juga tak sedang bahagia. aku sekedar berusaha menikmati hidup yang tinggal tak seberapa lama.
"ya nikmatilah. maaf mengganggu."
[29.07.2005]
@ 29.7.05 >>> |
Gossip Hari Ini (8)
merah itu mengalir lagi pagi tadi. kali ini bukan dari pori-pori atau kulit daging yang mengelupas terkena gurat anasir ketiga. melainkan dari ruasruas selokan kota tempat kata-kata bergerilya sebelum keluar menginjak dunia memecah kesunyian. tak apalah, tak sederas semalam.
[29.07.2005]
@ 29.7.05 >>> |
Gossip Hari Ini (7)
seorang teman baik punya kekasih baru seorang teman baik
Puisi demi puisi berjalan bersama waktu. Kuning-hijau-biru-ungu berbuku-buku. Ketika kuasa tak ayal direngkuh, melainkan lelah dan jenuh. Berbait-bait puisi tercipta dengan tinta peluh. Lalu cinta disua pada suatu masa. Cinta yang lemah dan juwita, cinta yang berkuasa. Seketika berbait-bait puisi tercipta dengan tinta merah jingga. Puisi-puisi itu adalah monumen. Yang disebar di batas-batas wilayah kuasa. Disebar di muka dunia nan maya.
Atas nama cinta.
Lahir di Bandung bulan Juli 1976. Saat ini bekerja di sebuah lembaga studi di Jakarta, & aktif di Komunitas Budaya Musyawarah Burung. Selain menulis sajak dan prosa, juga menulis untuk jurnal dan surat kabar serta menjadi periset dan editor lepas (sebagian paper dan artikel bisa diakses di sini). Sajak-sajaknya dimuat antara lain dalam antologi puisi Dian Sastro for President (AKY-Bentang, 2002), Dian Sastro for President #2: Reloaded (AKY-Bentang, 2003), antologi puisi Temu Sastra Jakarta Bisikan Kata Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta - Bentang, 2003), antologi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005); milis Penyair, Musyawarah-Burung, Hitam-putih, dan Bumimanusia; serta situs Cybersastra, Puisi.net, Bumimanusia, dan Hanyakata.
beberapa karya foto bisa dilihat di situs Fotografer.Net